
Tabanan (7/3) – Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 yang beririsan dengan Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momentum bagi umat Hindu dan muslim di Bali semakin merekatkan tali persaudaraan. Warga LDII Tabanan pun berkomitmen ikut menjaga ketenangan di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan Ketua DPD LDII Tabanan, Maulana Sandijaya, dan Wakil Ketua II DPD LDII Tabanan, Imam Kambali, saat bersilaturahmi ke kelian dinas dan kelian adat Banjar Malkangin, Desa Dajan Peken, Tabanan, Sabtu (7/3/2026).
Dijelaskan Sandijaya, warga LDII Tabanan berkomitmen mendukung penuh seruan bersama pemerintah dan FKUB terkait pelaksanaan Nyepi yang kemungkinan bertepatan dengan malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah.
Dalam seruan tersebut disebutkan, jika Idulfitri 2026 jatuh pada 20 Maret, umat muslim diperbolehkan takbiran dengan sejumlah syarat. Mulai takbiran di masjid terdekat dengan berjalan kaki, tanpa pengeras suara, tanpa petasan/mercon, dan tidak sampai larut malam.
“Seperti kita ketahui bersama, umat Hindu membutuhkan keheningan untuk berkontemplasi melakukan rangkaian tapa brata penyepian. Karena itu, kami warga LDII Tabanan memutuskan tidak melakukan kegiatan apapun di gedung sekretariat kami saat malam Nyepi,” ujar Sandijaya.
Saat menjalankan Nyepi, umat Hindu memiliki empat pantangan atau Catur Brata Penyepian. Yakni amati geni: dilarang menyalakan api/lampu termasuk api nafsu, amati karya: dilarang melakukan kegiatan fisik/kerja, amati lelungan: dilarang berpergian ke luar rumah, akan tetapi senantiasa introspeksi diri, dan amati lelanguan: dilarang mengadakan hiburan yang bertujuan untuk bersenang-senang.
Sandijaya mengajak warga LDII Tabanan untuk menjaga ketenangan saat Nyepi. Apabila ada warga LDII Tabanan yang ingin takbiran, maka dipersilakan mendatangi masjid terdekat di sekitar tempat tinggal.
“Tetap perhatikan radius, jarak dari rumah ke masjid paling jauh 200 meter dengan cara berjalan kaki, tanpa membuat suara-suara yang mengganggu,” tegasnya.
Dijelaskan lebih lanjut, Nyepi berdekatan dengan Idulfitri ini menjadi momen pembuktian toleransi. Dua tahun sebelumnya, Nyepi juga bersamaan dengan bulan Ramadan. Saat umat muslim berpuasa dan tarawih, umat Hindu tetap khidmat menjalankan tapa brata penyepian.
“Ini adalah bukti, bahwa umat beragama di Bali sudah dewasa. Jadi, tidak ada masalah meski hari besar berbarengan. Itu sudah beberapa kali terjadi, dan semua berjalan harmonis,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan Imam Kambali. Menurutnya, warga LDII Tabanan yang sudah 30 tahun lebih berada di tengah masyarakat Hindu dan agama lain, selalu hidup berdampingan.
Sementara itu, Kelian Adat Banjar Malkangin, I Komang Wijaya, mengapresiasi sikap umat muslim, khususnya warga LDII Tabanan.
“Matur suksma, selama ini sudah ikut menjaga kerukunan dan kedamaian. Hal-hal positif seperti ini perlu dipertahankan dan diwariskan pada generasi muda,” tutur pria 56 tahun itu.
Hal yang sama diutarakan Kelian Dinas atau Kepala Kewilayah Banjar Malkangin, I Ketut Agus Suteja. Ia berharap toleransi antarumat beragama di Banjar Malkangin bisa terjaga, sehingga menciptakan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk. (ana)

