Tabanan – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Tabanan, Bali, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, mengunjungi tempat pengolahan sampah plastik milik warga LDII Tabanan, Imam Kambali, Rabu siang (11/2/2026).
Rai Wahyuni didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tabanan, I Komang Giriyasa beserta jajaran, sejumlah tokoh masyarakat dan Kepala Desa Denbantas, serta pengurus LDII Tabanan.
Sekitar satu jam, istri Bupati Tabanan, I Gede Komang Sanjaya, itu melihat proses pengolahan sampah plastik hingga menjadi solar, minyak tanah, dan bensin. Kambali sendiri mendirikan komunitas Bali Harmoni untuk mengajak orang lain peduli sampah.
Rai Wahyuni tampak antusias menyimak penjelasan dari Imam Kambali. Beberapa kali Rai Wahyuni melontarkan pertanyaan tentang teknik pirolisis yang digunakan Imam Kambali.
“Saya sangat mengapresiasi Bapak Imam Kambali atas inovasinya mengolah sampah plastik. Hal ini bisa ditularkan ke masing-masing rumah tangga,” ujar Rai Wahyuni.
Dijelaskan lebih lanjut, saat ini pemerintah sedang menggalakan pengolahan sampah berbasis sumber. Inovasi Imam Kambali bisa menjadi contoh bagaimana sampah palstik bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Sebagaimana diketahui, lanjut Rai Wahyuni, sampah saat ini sudah menjadi masalah serius yang harus ditanggulangi bersama. Salah satunya melalui pengolahan sampah berbasis sumber.
“Pak Imam Kambali sudah bisa menghasilkan minyak tanah, bensin, dan solar dari sampah plastik. Ini sesuatu yang luar biasa dan patut diapresiasi,” tukasnya.
Selain mendapat penjelasan tentang pengolah sampah plastik, Rai Wahyuni juga mendapat penjelasan pengolahan sampah organik. Imam Kambali mengolah sampah organik seperti daun, sisa makanan, dan sisa buah-buahan menjadi pupuk.
Hasil pupuk organik itu digunakan memupuk tanaman hias dan cabai habanero. Berkat pupuk organik tersebut, tanaman tumbuh subur. Rai Wahyuni melihat langsung cabai habanero hasil pupuk organik karya Imam Kambali.
Sementara itu, Giriyasa mengapresiasi kehadiran Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan dan rombongan. Kehadiran TP PKK memberi suntikan motivasi pada warga yang tengah berkarya.
Menurutnya, pemerintah perlu hadir memberikan dukungan pada umat. Pengolahan sampah milik Imam Kambali adalah bukti, bahwa masyarakat juga memiliki kepedulian menangani sampah.
“Terima kasih Ibu Ketua TP PKK Tabanan. Kami juga mengapresiasi Bapak Imam Kambali dan pengurus LDII Tabanan yang sudah semangat dalam mengolah sampah. Ke depan, mari bersinergi untuk terus menjaga alam dan lingkungan,” ucapnya.
Anak Asma dan Istri Cemberut
Selama kunjungan, Imam Kambali dan istrinya Musiyam terlihat semringah. Wajah keduanya tampak gembira mendapat kunjungan dari Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Kepala Kantor Kemenag, dan pejabat lainnya.
Di hadapan rombongan, Kambali menceritakan bagaimana dirinya merakit mesin pirolisis dari barang-barang bekas yang didapat dari pemulung. Semua keperluan dan biaya diambil dari kantong pribadi. Hingga saat ini ia sudah mengeluarkan biaya Rp 40 juta lebih untuk mengolah sampah plastik menjadi BBM.
Pria lulusan SMA itu sedikit menceritakan pengolahan sampah plastik yang dilatarbelakangi oleh rasa “dendam” ketika anak keduanya berusia 5 tahun. Saat itu anaknya menderita asma. Sedikit saja menghirup udara kotor dan asap sampah, maka harus dibawa ke rumah sakit. Parahnya, masih saja ada orang di lingkungannya yang membakar sampah hingga menimbulkan asap. Sejak saat itu, Kambali bertekad mengolah sampah plastik tanpa mencemari lingkungan dan merugikan orang lain. Ia mengumumkan pada warga sekitar, bahwa dirinya siap menerima berbagai jenis sampah plastik.
Setelah melalui serangkaian uji coba, ayah lima anak itu akhirnya bisa mengolah sampah plastik menjadi cairan BBM. Kambali secara khusus berterimakasih pada istrinya yang banyak memberikan dukungan, meskipun kadang sering komplain.
“Istri saya ini yang paling banyak menjadi korban kebohongan. Contoh beli mesin diesel, saya bilang harganya murah, tapi setelah dia cek harga online, ternyata ketahuan harga aslinya. Dia akhirnya cemberut, tapi walaupun cemberut dia tetap ikhlas,” seloroh Kambali disambut tawa hadirin.
“Kalau tidak ada istri, bapak tidak bisa lo,” sahut Rai Wahyuni, kembali disambut tawa. Mendapat “pembelaan” dari Rai Wahyuni, Musiyam yang berada di samping Kambali tersipu malu.
Kambali menegaskan, dirinya nothing to lose atau tanpa beban dalam mengolah sampah. Ia juga tidak merasa dirugikan seandainya gagal. Baginya, untuk menyelesaikan persoalan sampah butuh action, tidak bisa sekadar teoritis dan birokratis. Pria asal Jombang, Jawa Timur, itu merasa bahagia karena hidupnya bermanfaat bagi lingkungan dan sesama manusia.
Selaras dengan Program LDII Mereresik
Apa yang dilakukan Kambali sejalan dengan program LDII Mereresik milik DPD LDII Tabanan. Ketua DPD LDII Tabanan, Maulana Sandijaya, mengatakan warga LDII Tabanan rutin mengumpulkan sampah plastik yang sudah dipilah dari rumah. Sampah itu kemudian diambil Imam Kambali setiap sebulan sekali.
“Kita tidak bisa menyerahkan pengolahan sampah sepenuhnya pada pemerintah. Sebagai penghasil sampah, kita ikut bertanggungjawab mengolah sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga,” tandas Sandijaya. (ana)

